Aku dan Secangkir Teh

Aku dan secangkir teh. Pagi ini, hanya kepada engkau ingin aku ceritakan tentang indahnya pagi ini.

Marilah, mari kemari merapat, dengar bisik ucapanku. Aku tak akan memilih kopi, yang kata orang itu jauh lebih nikmat untuk menemani pagi.

Yaa, biarkanlah apa kata orang, tapi aku lebih suka memilihmu.

“Apa yang hendak kau ceritakan sahabatku”

“Entahlah, akupun sebenarnya masih bingung mau memulai darimana. Bagaiamana kalau aku mencicipimu dulu sembari memikirkan darimana aku harus mulai bercerita”

“Iya, silahkan, dengan senang hati”

Sruppuuutttt,,, aaah,, alhamdulillah…

Nikmaat, sungguh terasa nikmat.

Senikmat atas segala karunia Allah yang masih dititipkan untukku sampai detik ini. Senikmat udara subuh yang masih bisa aku hirup pagi tadi. Senikmat anugerah penglihatan yang masih diamanahkan untuk aku, senikmat pendengaran yang masih tajam yang Allah masih amanahkan untukku, senikmat anggota tubuh yang masih lengkap, senikmat langkah kaki setapak demi setapak menuju surau untuk menemui sang maha pemberi Nikmat itu.

“Boleh aku menikmatimu lagi duhai secangkir teh?”

“Oh, tentu saja saudaraku, aku bahagia bisa memiliki sahabat sepertimu yang mau memilih aku”

Pagi tadi udara memang begitu dingin. Anugerah dari langit rupanya telah menghampiri bumi dimana aku berpijak. Tanpa aku sadari. Iyaa, aku tak sadar kapan tepatnya anugerah dari langit itu datang menghampiri bumi.

“Karena nyenyaknya dalam peraduan??”

“Iya, bisa juga seperti itu”

“Dan kau terus terlelap sampai melewatkan waktu teristimewa pada masa itu?!”

“Oh, tentu saja tidak. Hembusan angin seolah berbisik kepadaku. Dia memintaku untuk beranjak dari peraduan. Dia merasa tidak rela kalau hembusannya justru malah menjadi selimut hangat dalam peraduan.”

“Owh, syukurlah. Apa yang kau rasakan ketika itu?”

“Indah, seindah aku menikmatimu duhai secangkir teh. Bagaimana tidak terasa indah?? Di situ hanya ada antara aku dan DIA. Yaa,, DIA… DIA yang mencintaku, DIA yang merindukanku, DIA yang mengasihiku, DIA yang menyayangiku, DIA yang sangat perhatian kepadaku, DIA yang selalu ada untukku, DIA yang selalu menanti dan mengharapku kembali saat aku justru jauh meninggalkan dan melupakanNYA. DIA.. DIA… DIA,,, ya saat itu hanya ada aku dan DIA.. Bagaimana itu tidak terasa indah?? Indah bukaaan saat bersama orang mencintai kita???”

Udara memang cukup dingin, belaiannya terasa menusuk tulang. Rintik hujan kian mulai terasa subuh kali ini. Justru ini menjadi subuh yang sangat indah. Bangunlah wahai para yang berselimut. Lihatlah, betapa indah suasana pagi ini, rasakanlah suhu subuh kali ini. Sangat rugi jika tak sampai menyaksikan dan merasakannya. Sangat merugi untuk dilewatkan, sebab hidup hanya sekali. Warnai hidupmu dengan merasakan berbagai pernak-perniknya kehidupan. Sebab hidup hanya sekali, awali hidupmu dari subuh hari, bahkan bila perlu jangan sampai kalah sampai awal harinya sang ayam.

“Tak terasa ya, kau tinggal setengah di cangkir ini.😀 “

“Owh, tak masalah. Habiskan saja, aku malah tak suka kalau nanti sampai tersisa. Bukankah itu suatu kemubadziran. Taukan kalau mubadzir itu temannya syetan?”

“Iya ya ya,,, aku tau itu. Mudah2an, nanti bukan hanya sekedar tahu, tapi bisa dimengerti dan dipahami”

Waktu subuh pun sebentar lagi akan menghampiri. Tanpa ragu ku ayunkan langkah untuk menemui kekasihku. Aku sudah menekadkan diri. Dulu mungkin hanya sekedar sebagai penikmat seruan di subuh hari. Tapi kali ini, bukan hanya sebagai penikmat, tapi akan kusajikan seruan di subuh hari untuk seluruh penduduk bumi. Iyaaa, menjadi seorang penyaji seruan tuhanNYA. Menebarkan kebaikan sebagai awal berinteraksi dengan para penduduk bumi. Bukankah itu hal yang sangat dicintai oleh sang penguasa langit dan bumi??? Menebar cinta, menebar kebaikan, memberi ketentraman bagi bumi.

“Tapi di luar sana rintik hujan mulai terasa deras. Ragukah kau untuk terus melangkahkan kaki menuju rumahNYA?”

“Ah, tiada keraguan sama sekali. Semoga rintik hujan ini nanti akan meredamkan panasnya api neraka”

Seruan subuh hari membahana, memecah dalam sunyi dingin pagi ini, melebur menjadi satu dengan cucuran rahmat dari langitNYA. Entah siapa yang akan memenangkan diri sendiri dalam situasi seperti ini. SeruanNYA ataukah hawa nafsu syetan yang akan terus menyelimuti para penikmat selimut subuh. Aah, semuanya kembali pada diri masing-masing. Tiada yang salah pada sang Maha Penguasa. DIA telah menyerukan penduduk bumi untuk segera beranjak menemuiNYA. DIA telah memberikan kabar bahwa berjumpa denganNYA itu jauh lebih baik dari pada harus bersembunyi dalam selimut tipu daya syetan.

“Kau lelah karena seruanmu tak didengar?”

“Oh, tentu saja tidak. Itu bukanlah seruanku. Itu adalah seruanNYA. Aku hanya merasa berkewajiban saja untuk menyampaikan seruanNYA. Tiada merasa lelah, hanya saja terkadang ada rasa duka, ketika melihat yang hadir hanya segelintir manusia saja. Sungguh tak adil rasanya bila dibandingkan misalnya di sana ada seruan untuk mengadakan nonton bareng pertandingan final sepakbola pada waktu dini hari menjelang subuh. Pasti yang datang bisa melebihi daya tampung. Aah, begitulah manusia. Bukaan… bukannya aku pembenci para penikmat bola. Aku juga seorang penikmat bola, aku juga senang bermain bola🙂. Aku sama seperti mereka yang menyukai dunia bola”

Rinai hujan masih cukup deras saat subuh usai. Tak masalah buatku, karena dengan itu, dia (hujan) membuatku untuk bertahan di dalam surau. Ahh, rupanya Allah masih ingin berlama-lama denganku, dan aku suka itu.

“Hujan sudah mulai reda, pulangkah engkau?”

“Ya, aku beranjak meninggalkan surau saat hujan mulai reda”

“Apa yang kemudian kau lakukan setelah di rumah? kembali melanjutkan mimpi2mu kah?”

“Seandainya tak ada hal yang lebih baik dari itu, pasti akan aku lakukan hal itu (tidur lagi). Tapi sepertinya, sangat disayangkan kalau melewatkan hal-hal yang jauh lebih baik dari itu”

“Tapi kan suasana sangat cocok dan mendukung untuk kembali dalam peraduan?!”

“Iya, tapi aku rasa sudah cukup. Bukankah Tuhan kita telah memberikan malamku sebagai peraduan, tidur sebagai istirahat dan siangnya untuk beraktifitas?”

“Iyaa, tapi masih hujan di laur sana, udara masih dingin dan angin bertiup cukup kencang”

“Jangan jadikan hujan sebagai alasan. Angin ini adalah utusan ALLAH yang diutus untuk memberikan kabar gembira bagi penduduk bumi akan turunya rahmat ALLAH. Jadi justru harus kita saksikan, kita rasakan, dan nantinya akan menumbuhkan sifat syukur dalam diri ini.”

“Tapi sebagian besar orang malah asik dalam peraduannya”

“Makanya itu, aku ingin termasuk ke dalam golongan yang sedikit”

“Dimasukkan ke dalam golongan yang sedikit?? Maksudnya?? Bukankah akan lebih enak kalau masuk ke dalam golongan yang banyak?”

“Tidak.. menurutku golongan sedikit itulah yang penuh dengan kenikmatan. Sebab apa? Sebab yang mau mensyukuri nikmat Allah hanyalah sedikit dari seluruh penduduk bumi ini. Qoliilaan maa tasykuruun…”

Kunikmati tetesan terakhir dari secangkir teh pagi ini. Indaah, nikmat, anugerah Allah yang tiada terkira sepanjang pagi ini. Di setiap waktu, syukur atas nikmatNYA tiada pernah terhenti.

“Baiklah, terimakasih telah memilihku untuk menemanimu pagi ini sahabatku. Aku bersyukur bisa engkau habiskan, sehingga tiada yang mubadzir. Selamat beraktifitas saudaraku, semoga Allah memberkahimu dalam menjalani aktifitas sepanjang hari nanti. Curahan2 rahmatNYA telah kau rasakan sejak kau membuka mata mengawali hari ini. Semuanya harus engkau syukuri tanpa terkecuali”

“Terimakasih juga sobat pagiku. semoga engkau tidak bosan untuk berbagi cerita denganku. sampai ketemu pada cerita2 berikutnya”

Aku dan secangkir teh pagi ini, merangkai kisah menjalani garis takdirNYA

Pada secangkir teh dan seulas senyum, biarkan aku percaya,

Bahwa pahit manisnya kehidupan akan silih berganti,

Bahwa hanya padaNYA segala kuserahkan…

Bahwa ku percaya, kelak akan ada bidadariNYA yang akan menyajikan secangkir teh setiap pagi untukku…😀😀

secangkir teh

14 comments

  1. “Bahwa ku percaya, kelak akan ada bidadariNYA yang akan menyajikan secangkir teh setiap pagi untukku… ” lho kakak belum kawin toh? :O

  2. Aku do’akan: Semoga kelak akan ada bidadariNYA yang akan menyajikan secangkir teh setiap pagi untukmu🙂

    Apa khabar?

  3. semoga segera dipertemukan dengan bidadariNya ya mas brur😀

  4. manisssssss……………deh kaka

  5. semoga tahun ini bisa menemukannya ya🙂

  6. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  7. aku kalo di rumah kadang disiapin teh sama bidadari a.k.a ibu😀

    sementara, bikin teh sendiri dulu ya sebelum ketemu bidadarinya :p

  8. Alhamdulillah…, betapa nikmatnya secangkir teh. Apalagi di pagi yang dingin. Hmmm…., semoga terkabulkan ya, Mas, betapa si cantik itu menyeduh teh, menyuguhkan dengan senyum dan semerbak pesona….

  9. Semoga cepat bertemu dengan tulang rusuknya😀 amiinnn
    salam kenal

  10. jangan2 sudah dapet nih, kang …hehehe

  11. Semoga segera ada bidadari yang menemanimu menikmati cangkir demi cangkir teh kehidupan ini….
    Assalamualaikum Mab.., apa kabar?

    1. aamiin…😀
      ‘alaikumussalam wr wb…
      alhamdulillaah mbaa, sehat wal afiat…
      haduuhh.. maaf nih, lagi blum fokus ngeblog lagi..😀

  12. like this lah!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: