Ujian ooh Ujian

Di sudut kelas itu, delapan tahun yang silam, saya dan tentunya dengan teman seangkatan, pernah merasakan apa yang sekarang sedang dialami oleh adik-adik kita (atau anak2 kita ya? hehehe) yang duduk di bangku SMA/SMK, yaitu menghadapi Ujian Nasional.

Masih teringat jelas, kala itu adalah tahun kedua bagi aku & teman seangkatan (2004), dimana sistem kelulusan ditentukan oleh nilai minimal dari 3 mata pelajaran. Minimal yang harus dicapai saat itu, aku sendiri sudah lupa. Tapi yang jelas itu harus dipenuhi, mutlak, dan tidak bisa diganggu gugat. Jadi, seolah-olah hasil usaha/belajar kita selama kurang lebih 3 tahun di sekolah, tak bernilai apa-apa kalau hasil dari Ujian Nasionalnya, dari tiga mata pelajaran itu ada yang di bawah batas minimal. Tak peduli asalnya dia bintang kelas, tak peduli juara olimpiade, tak peduli siswa teladan, kalau nilai diantara 3 mata pelajaran itu di bawah batas minimal, tetap tidak bisa lulus. Sungguh suatu hal yang sangat menyakitkan, dan menurut aku sendiri itu suatu ketidak adilan. Ya bagaimana mau dikatakan adil, usaha sejak kelas 1 sampai akhir kelas 3, sama sekali tak dihargai, hanya karena 3 mata pelajaran itu. Tapi ya sudahlah, sebagai bagian yang berkecimpung dalam dunia pendidikan yang tidak memiliki kewenangan, paling cuma bisa pasrah aja, menjalani apa yang telah ditetapkan oleh yang berkuasa.

Beruntungnya, Allah SWT Tuhan kita, tidak menganut sistem seperti itu dalam menilai suatu usaha kita. Allah SWT tidak memberikan nilai kepada kita, hanya berdasarkan atas hasil akhirnya saja. Tapi dari setiap langkah awal usaha sampai dengan hasil akhirnya nanti, Allah akan memberikan penilaian dengan sangat teliti, tanpa secuil pun meleset. Mau berhasil atau tidak usaha kita nanti, Allah akan tetap memperhitungkan setiap usaha yang telah kita lewati, asalkan semua usaha yang kita kerjakan kita niatkan hanya semata-mata mengharap ridho_Nya.

Jadi, apabila kita hendak mengejar suatu target, dan tentunya harapan kita adala bisa terpenuhinya target itu, sebelum mengambil langkah awal, kita niatkan dulu karena-Nya, itu pun suatu nilai ibadah di mata Allah SWT. Lalu kemudian, kita terus berusaha, pantang menyerah, pantang putus asa, pantang berkeluh kesah, setiap langkah yang kita tindakan, setiap keringat yang kita teteskan, setiap aral rintang yang menghadang, suka, duka, tangis, tawa, kita hadapi dengan penuh keihlasan dan kesabaran karena Allah SWT, itupun akan dinilai oleh Allah SWT. Dan ketika sampai pada tahap akhir, ternyata apa yang kita harapkan itu tidak sesuai, namun kita bisa menerimanya dengan ikhlas, sabar, syukur dan tetap berikhtiar, menurut kita itu gagal, tapi tidak dengan Allah. Allah tetap akan memberikan nilai lebih kepada kita. Bahkan itu bisa lebih mulia bila dibandingkan dengan ketika berhasil meraih apa yang diinginkan, tapi setelahnya justru menjadikannya lalai kepada Allah SWT.

Ketika suatu usaha yang kita lakukan pada akhirnya tidak seperti apa yang kita harapkan, namun kita bisa menerimanya dngan ikhlas & sabar, serta tetap berprasangka baik pada-Nya, yakinlah kegagalan itu tidak menjadikan kita hina di mata Allah SWT. Usaha yang kita lakukan pun dari awal sampai akhir itu, tidak akan terhapus hanya karena kegagalan itu.

Jadi ingat sebuah syair dari Snada yang dibawakan oleh tim Nasyid G’natyx (IPA3):

“Sebesar dzarrah pun diperhitungkan, Kebaikan yang telah kita amalkan

Sebesar dzarrah pun diperhitungkan, Keburukan yang telah kita lakukan”

(QS.Al Zalzala: 7-8)

Semangat kawan, niatkan setiap langkah yang kita kerjakan semata untuk mengharap ridho-Nya. Bagi adik2 SMA/SMK sederajat yang sedang melaksanakan ujian, selamat menikmati menu ujian yang disajikan. Santai saja, kalau suda yakin dengan usaha dan doa yang telah dikerjakan, insya Allah akan dipermudah.

41 comments

  1. *merenung* kok kayaknya saya ga ada kenangan berkesan ya selama UN dulu.. rasanya semua berlalu begitu saja..
    tapi kalau masa-masa bersekolahnya, itu masih sering keinget

    1. haaahahah,,
      santai2 aja ya mba…

      soalnya aku itu pas tahun kedua mulai diberlakukannya nilai minimal sih, jadinya ya agak menyeramkan..😀

  2. Yunda Hamasah · · Reply

    Tahun 2004 aku tamat kuliah🙂

    Iya ya syukurnya Sang Khalik tak menilai kita seperti sistem pendidikan tersebut🙂

    1. bisa berabe kalau Allah menilainya seperti itu bu..😀

  3. mechtadeera · · Reply

    setuju..syukur bahwa DIA mempunyai metoda penilaian sendiri, maka mari kita perbagus nilai kita dimataNYA ya…
    *BTW…jadi malu ketika ingat yg bagimu baru 8 th berlalu itu, bagiku sudah berkali-kali lipat lama berlalunya..haha..*

    1. qkqkqk,, lulus SMA tahun berapa mba??😀
      ketemu juga fb-nya,,, hehehe

      1. mechtadeera · ·

        taun wawu !😉
        thx add nya ya…

  4. Tina Latief · · Reply

    wah mas, saya juga mau ujian nih..
    doanya saja,
    baca ini kok jadi sesuatu yah..

    1. wewww telat balesnya.
      gimana ujiannya??😀

  5. aku lulus sma thn 96 masih beda sistemnya ya

    1. mulai seperti itu taun 2003 bu..😀

  6. djangkies · · Reply

    sangat disayangkan jika tiga tahun bekerja keras, hanya ditentukan dari hasil akhir 3 nilai mata pelajaran. Beda banget dengan jama saya SMA jadul, tahun 1988. weks tua banget ya

    1. heheh,, iya pakk.
      wah, th 88, saya baru 2 tahun pak.😀

  7. semoga lulus semua

  8. Beda sama EBTA dan EBTANAS donk????

    1. beda banget paaakkk,,😀
      Ebta Ebtanas alhamdulillah ngrasain waktu SD SMP.😀

  9. Yang berdebar tidak hanya yang maju ujian, ortu dan guru sekolahpun serasa ikut ujian. Salam

    1. betul bu,,
      semuanya juga ikut berdebar-debar.. termasuk saya,, apalagi adik sepupu saya juga lagi ikut ujian..😀

  10. kalau UNAS itu, yang deg-deg-an bukan cuma siswanya, orang tua, guru, tetangga sekampung, semuaaaaanya ikut grogi. kalo ada yang ga lulus, semuanya juga ikut sedih.

    1. qkqkqkqk…..
      bikin heboh pokoknya ya?😀

      1. iya, hebring deh😆

  11. Masih inget yaa. Wah aku g sempat ngerasain UN yg hny ditentukan brdasar 3MP sajaa…
    Brarti kita beda dua th mab

    1. dua taun, ga jauh2 amat ya bu.. hehehe,
      brarti saya kelas 1, ibu sudah kelas 3 yah itungannya..😀

  12. Wkwkwk ujian dibilang menu😛
    Owww kita berarti beda hemmm 10 tahun, ahahaha *plakkk*

    1. waat, 10 tauuuunnn?? bukannya 15 taun mba?? hahaha

  13. syarate 3,25 mas bro…kelingan listening bahasa inggris…hahaha…

    1. jiahaaa,,,,
      oya yah,, ana ujian listeninge napa? aku jagonge nang pojokan ora krungu jelas tipe..😀

  14. hahahaha…jaman jepang ndan…esih nganggo tape..=D

  15. menyimak🙂

    tidak ada yang sia-sia dari sebuah kebaikan, makanya niat dan doa sebelum mengawali seseuatu itu jangan dilupakan.. semoga kita bisa.. aamiin..🙂

  16. Semoga yang menghadapi unas bisa survive dan lulus dengan angak yang tidak mengecewakan.😆
    Tapi jamanku dulu gak pernah ikut unas tapi hampir semua siswanya lulus😕

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  17. kirain ada hubungannya dengan judul tulisanku yang terakhir😛

  18. UN sekarang koch spt jadi hal yang menakutkan ya…
    sangat disayangkan sekali mmg sistem pendidikan kita sekarang ini

  19. tahun 2004 aku udh berpetualang ke JKT Mab heuheuheu

    1. saya sudah mulai mengajari Sabila membaca dan menulis. ( terbongkar deh, seberapa tuanya saya🙂 )

  20. Alhamdulillah masss… aye luluussss😀

    Lulus taon berape yeee aye?! *pura2 lupa*

  21. Selamat untuk adik-adikku yang sudah selesai menghadapi ujian, semoga nilai kalian memuaskan. Dan untuk adik-adik seumuran anakku, selamat belajar, semoga kalian diberi kemudahan dalam mengerjakan soal ujian sehingga hasilnya benar-benar maksimal.

    1. Sabila lulus ya bi?? alhamdulillaah

      1. kalau untuk SD, sudah ada jaminan dari gurunya, semua diluluskan karena keputusan lulus tidaknya masih diserahkan kepada pihak sekolah, Mas. Tapi mudah-mudahan hasil ujian nya maksimal, seusai yang diharapkan. amin.

  22. Mab… apa kabar?

    iya yah… metode ujian di indonesia agak memprihatinkan😦
    tapi insya Allah apa yg telah dipelajari apapun itu adalah modal bagi seseorang untuk kehidupan
    dia selanjutnya, bukan hanya untuk ujian saja… semoga…

    1. alhamdulillah bu,, sehat sehat, semoga vania skeluarga juga sehat selalu.

      iya benar, smoga tetap sadar dan merasakan bahwa apa yang skarang digeluti tentunya sebagia bekal di masa mendatang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: