Bawangmu, kini….

Untuk kalian yang sedang obral janji berdalih sidang
Cuap sana cuap sini hanya menghambur-hamburkan uang
Tanpa menghasilkan solusi yang matang

Tidakkah kalian lihat jerit hati petani bawang
Bawang mereka sekarang tidak bisa menghasilkan uang
Sehingga untuk makan pun akhirnya harus berhutang
Eeeh,, malah kalian datangkan bawang dari negeri orang

Aaah,, Sudahlah. Jeritan hati dari rakyat biasa seperti saya ini mungkin tak akan dihiraukan oleh mereka.

Lagi-lagi, petani-petani kita sedang diberi cobaan oleh Allah melalui tangan-tangan penguasa negeri ini. Belum pulih akibat banjir yang menerjang beberapa hari kemarin, sehingga menjadikan pertanian bawang yang ada di Wilayah Brebes mengalami kerugian, sekarang ditambah lagi beban mereka (para petani bawang) dengan masuknya bawang impor ke wilayah Brebes.

Sudah pasti itu akan sangat merugikan petani bawang di Brebes. Akibat adanya impor bawang itu, harga bawang merah lokal anjlok berkisar antara Rp 2000 – Rp 2500/kg. Sungguh sangat tak sebanding sekali dengan biaya produksi yang dikeluarkan mereka. Tak heran jika, tadi siang para petani bawang melakukan demo di Pasar Bawang Klampok, Kec. Wanasari, Kab. Brebes, Jawa Tengah.

Apa tidak ada solusi lain yang lebih tepat selain harus mengimpor bawang dari luar? Apakah masyarakat Indonesia sudah tidak suka lagi mengkonsumsi bawang merah lokal, sehingga pemerintah memutuskan untuk melakukan impor? Atau memang bawang lokal sudah tidak mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia?

Entahlah, tapi sepertinya akan lebih bijak jika dana yang dipakai untuk impor bawang itu, digunakan misalnya untuk biaya pelatihan para petani untuk bisa lebih meningkatkan hasil pertaniannya. Sehingga nanti diharapkan dengan para petaninya yang lebih terampil, akan menghasilkan pertanian yang lebih baik. Bukannya malah impor. Negeri agraris kok malah ngimpor. Mudah-mudahan semuanya biasa memahami, sehingga permasalahan impor bawang ini bisa segera diatasi dengan tidak ada pihak-pihak yang dirugikan.

Untuk wilayah Brebes selatan, khususnya daerah penghasil sayur-mayur seperti wilayah Sirampog, boleh sedikit gembira. Pada beberapa sayuran mengalami kenaikan harga, terutama wortel. Wortel sekarang dari petaninya per kilogramnya mencapai Rp 6.000,-. Padahal sebelumnya hanya berkisar Rp 1.500,-/kg.

Saya kemarin sempet kaget, saat ibu membeli terong. Kebetulan di sawah lagi ga nanem terong sendiri, jadinya beli. Lumayan banyak ibu beli terong. Saya kira harganya ya sesuailah dengan banyaknya terong. Eeeehh, ternyata itu di luar perkiraan saya. Terong sebanyak itu cuma dihargai Empat ribu rupiah. Iya,Β  Rp 4.000 untuk terong sebanyak ini. Luaar biasa. Untung bagi yang beli pastinya.πŸ˜€

Terong sebanyak ini cuma Rp 4.000

Sudahlah, yang penting tetap semangat macul..πŸ˜€πŸ˜€

Referensi: Panturanews

58 comments

  1. awalnya saya bingung lho mas.. judulnya bawang, gambarnya kok terong
    hahaha

    1. hahahahaa,, kejebak ya? emang sengaja… hihihi

      1. Menjebak atau salting, nih? Hehe…

        Harga sayur juga berhubungan dengan cuaca juga, kan? Huh, saya sedih harga tomat, cabe & wortel melambung tinggi gini. Trus mudah busuk lagi.

        Asli komentar tidak nyambung. Haha….
        (serius) Harapan saya para petani bawang segera bangkit dari keterpurukannya. Saya sendiri heran jika minggu2 lalu bawang mahal sekali dan basah, sekarang sangat murah dan kesat. Ternyata impor, tho.

      2. iya bu, tergantung cuaca juga. bawang bagusnya kalau panas. Tapi setidaknya cadangan bawang seperti masih dirasa cukup tanpa harus ada impor bu. Nah ini pemerintah ko malah ngimpor bawang, trs dijualnya lagi ko lah ya di sentra bawang. Kan ga lucu banget itu..πŸ˜€

      3. Irfan Handi · ·

        Kirain Bawang sudah berubah bentuk seperti terong Mas.πŸ˜†

      4. heheh,,
        sampai kapan bisa berubah?πŸ˜€

  2. waduh…bawang drmana itu mas? jangan2 impor dr RRC juga? ampun deh Pemerintah..selalu kecolongan! Saya penggemar berat bawang merah, tak ada masakan tanpa bawang ini. Moga2 aja yg kubeli masih produksi petani dalam negeri…

    1. kabarnya bawang dari Vietnam & India bu…
      iyaa, tetep pake produk dalam negeri ajaah..πŸ˜€

  3. terongnya begitu menggoda untuk dibuat sambel, hihihihihi..

    1. hihihi,, monggo mas..πŸ˜€

  4. Kayaknya petani kita cerita sedih mulu ya Mas. Mesti diapakan pemerintah ini ya..Apa di doakan mati serentak saja kali yah? Soalnya yg mendoakan agar mereka insap sudah banyak, namun kayaknya belum terkabul..Dan terong sebanyak itu 4.000, mudah2an karena harga tetangga. Tapi kalau dibawa ke pasar harganya lebih bagus..Kalau begini emang gak aneh jika anak muda bahkan anak petanipun tak tertarik jadi petani. Habis susah mulu😦

    1. iya bu,,
      nyata sekali dalam masyarakat. sekarang banyak petani yang menginginkan anak2nya agar tak meneruskan profesinya menjadi petani. mending sawah ladangnya dijual untuk modal dagang atau yang lainnya, yang penting ga jadi petani. nah kalau sudah spt itu, trs kebutuhan pangan kita mau dapat dari mana??πŸ˜€

  5. terong segitu di sini ga dapet 4000 Mab
    tapi untuk dibawa kesini, sudah berapa pula ongkosnya ya😦
    aku udah kehabisan kata2 deh klo udah ngomongin nasib saudara2 kita yang petani ini, bener2 speechless!!!

    1. hehehe,,
      itu bu mungkin yg bikin jadi mahal..πŸ˜€

      semoga ada secercah harapan untuk kebaikan pra petani2 kita ya bu

  6. Apa?!?!? bawang import? keterlaluan

    memang ya, kita ini seperti anak kecil yg nggak bisa milih siapa orangtuanya.. kita anak negeri yg polos tak tahu apa2, sementara “orangtuanya” perampok yah kita bisa apa ya.. pasrah…

    1. hiks..hiks..
      negeri agraris impor bawang, negeri maritim masih impor garam juga..
      sebenarnya negeri ini negeri apa namanya?😦

  7. Agung Rangga · · Reply

    hmm, kasihan juga ya kak, padahal sda kita masih banyak, malah impor dari luar…😦

    1. siapa yang salah kalau gitu gung?πŸ˜€

  8. sebenarnya peran PEMDA juga berpengaruh, bagaimana mengelola potensi yang ada di daerahnya.

    1. berpengaruh sekali pastinya.
      permasalahannya Pemdanya juga malah kurang memperhatikan potensi yang ada

  9. hah segitu banyaknya cuma 4000. tadi pagi saya beli terong satunya 2000

    1. waah,,, mahal ya bu kalau di kota..πŸ˜€

  10. iyaa lho mas, dhe juga sedih gitu kalo misalnya sedang musim panen saruyan di rumah mbah.. harganya gk sesuai banget ama susahnya nanem dan ngerawat.. hmm, mungkin ini kali ya salah satunya mbah dhe sering bilang, “Gk usah jadi petani nok, jadi petani itu susah”..😐

    1. hiks..hiks..
      kasihan para petani..😦

  11. bapak saya di jombang sana juga petani, Mas,
    betapa senang ketika panen ketela, besar-besar…, tapi harganya….
    sayur mayur pun ditanam oleh bapak, hasilnya bagus-bagus
    tapi, harganya….
    hmmm…. benar apa yang dibilang Mas Mabruri, tetap semangat macul….

    [hari Ahad kemarin, saya nemeni seorang ustadz dalam satu mobil ke daerah Bantul, dalam perjalanan ia bilang ke saya, “Pemilu depan saya ga milih anggota Dewan, Mas.” Saya tanya, “Lha kenapa?” Jawabnya, aduh… aduh… ga tega aku nulis di sini. Sang Ustadz tahu banyak tentang kelakuan mereka]

    1. Allah menguji para petani melalui seperti itu ya pak ustadz, semoga saja tetep ihlas & sabar, dan terus semangat…

      heheh,, orang2 dewan memang sudah dicap seperti itu kali ya..πŸ˜€
      padahal ya satu dua sih ada yang bersih.

  12. Saleum,
    Banyak juga tuh terong seharga Rp 4000 bang. Mau lah saya pesan terong kalau harganya segitu.
    Memang sih, para petani yang telah mengeluarkan banyak biaya dari tahap awal berkebun hingga mencegah penyakitnya lumayan besar dan pemerintah RI seharusnya melihat, memperhatikan serta menghargai jerih payah petani dengan meng unggulkan produk dalam negeri sehingga kesejahteraan di butir ke lima pancasila itu betul2 dirasakan oleh rakyat khususnya para petani.
    saleum dmilano

    1. siaap bang,,
      seharusnya seperti itu, kerjasama yang baik antara pemerintah dan para petani. jangan sampai malah merugikan salah satu pihak, terutama kaum taninya.

  13. dulu pertama kali mambaca postingan mu saya terharu atas cerita petani bawang. sekarang bawang masih menyebabkan air mataπŸ™‚

    1. hjehehe,, sampai kapanpun bawang tetep bikin mrebes milik mas..πŸ˜€

  14. wow….. murah banget itu terongnya…..

    di lain sisi saya senang karena saya bukan petani jadi bisa beli murah, tapi kasihan kalau petani digeruduk sama bawang merah impor…

    buat renovasi kamar mandi tuh uangnya dari pada buat pelatihan petani… ha haπŸ˜€

    1. hehehe
      betul itu mas,, yg penting jangan buat impor aja lah ya

  15. Tina Latief · · Reply

    bawang itu kalau di potong-potong pedih di mata dan bikin mata berair…
    cerita ini bisa membuat mata berair-air…or menangis..

    1. hiks..hiks…
      ngasih tissuuee

  16. Yunda Hamasah · · Reply

    Tetap Semangat macul, betul ituuu…

    1. harus itu bu,, pacul harus tetep diangkat tinggi, dan dihujamkan dalam dalam

  17. setuju bgt mas dgn statement terakhir,
    Buat para petani indonesa, jgn pernah gantung pacul..
    Pokoknya semangat kakak..
    *jyaaaahh*

    1. hahha, betul itu
      bahaya kalau sampai gantung cangkul

  18. Hiks…. saya turut prihatin dengan keanehan yang terjadi di negeri ini… kenapa impor semakin diperbanyak…😦

    Tapi soal bencana… apa mau dikata…😐 Sudah kehendak alam… Saya berdoa, semoga para petani di seluruh Indonesia yang gagal panen diberi kesabaran….πŸ˜₯

    1. iyaa, bencana sih tak bisa dielakkan..
      tapi yg impor ini lho.. ckck

      aamiin, makasih mas..πŸ˜€

  19. kenapa harus beli barang impor, jika ada barang dalam negeri yang juga berkualitas…

    1. tanya kenappaaa?πŸ˜€

  20. emang negeri ini sangat aneh…..’aneh bin ajaib’ sob:D

    1. kaya negerinya para pesulap jadinya ya mas..πŸ˜€

  21. Kemarin teman saya bawa bawang banyak dari Tegal. Adakalanya harga ampe jatuh ya

    1. namanya jualan mas,,, ada naik ada turun harganyaπŸ˜€

  22. Sedihhh😦 kasian yang nanem…

    1. seneng yang cuma jadi pembeli.πŸ˜€

  23. Potensi Brebes sangat luar biasa dari perikanan, peternakan hingga tanaman sayurnya. Waduh balada terong empat ribu, semoga jadi balado terong yang lezat. salam

    1. hehe,,
      iya bu,, sayangnya harga jualnya belum berimbang dg biaya produksinya..😦

  24. Wah, murahnyaa…. Mau dong terongnyaaa…. Sama bawangnyaa…. Sama telor asinnyaaaa………..πŸ˜€

    1. semuanya aja pak.. hehehe

  25. Ndak usah dipikirin,… mancul terus mas. Jerit2 di depan DPR juga percuma, wong mereka budeg ko’😦

    1. budeg & buta ya pak..πŸ˜€

  26. Yeah…, gembar-gembor ketahanan pangan. semua hanya riuh di seminar-seminar dan ruang kuliah. Kenyataanya?

    hmmm…. mekanisme pasar. kalau petani pada mogok macul gimana?

    1. hh,,, kta ga makan dong ya..πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: