Fatmawati

Fatmawati adikku
Di istirahat panjangmu
Dalam peluk kasih sayang Rabbmu
Ku bersimpuh di atas pusaramu
Menaburkan do’a suci untukmu

Mungkin kisah ini sudah sering saya ceritakan di blog ini. Namun, saya angkat kembali, agar saya tetap mengenang almarhumah adikku, dan demi memenuhi undangan Trio Kecebong yang Berwarna-warni😀. Selain itu juga, memang karena sepanjang perjalanan hidup saya sampai saat ini, kisah inilah yang sangat memilukan buat saya. Bahkan sampai saat ini, mata saya terkadang masih berkaca-kaca bila sedang terkenang almarhumah adik.

Fatmawati, begitu nama itu disematkan pada bayi perempuan yang lahir pada 22 Agustus 1987. Sepanjang perjalanannya menjalani kehidupan ini, dia termasuk orang yang tegar, sehat, kuat. Sakit pun sewajarnya saja, seperti kebanyakan orang. Namun, entahlah saat usianya beranjak dewasa, tiba-tiba saja penyakit yang berbahaya itu menghampiri dirinya.

Malam itu (Senin, 21/3/2011), saya memang sedang meninggalkan adik yang telah lama terbaring (4 minggu) dirawat di RS Kariadi-Semarang. Sebelumnya, saya selalu mendampingi adik selama menjalani perawatan di RS tersebut. Namun, karena ada satu hal yang menyangkut pekerjaan, terpaksa saya harus meninggalkan adik dulu untuk sementara. Adik kemudian di RS hanya bersama dengan ibu dan sepupu saya.

Namun, tiba-tiba saudara sepupu mengabarkan bahwa kondisi adik semakin memburuk dan meminta saya untuk segera menuju rumah sakit Kariadi Semarang. Runtuh seketika hati ini saat mendengar jawaban dari sepupu kalau keadaan adik makin memburuk. Rasa lemas begitu cepat menyebar ke seluruh tubuh. Mata mulai berkaca-kaca, dan air matapun kini mulai mengalir dan tak mampu untuk bisa dibendung.

Setelah dirasa bisa menata hati kembali, saya langsung meluncur menuju RS Kariadi Semarang. Mengingat waktu sudah malam, harapan saya kepada Allah, semoga saja dimudahkan dan dilancarkan dalam perjalanan menuju Semarang.

Namun hal itu tidak sesuai dengan harapan saya. Rupanya Allah punya rencana lain. Banyak kendala yang menghalangi saya untuk bisa cepat sampai ke RS Kariadi, Semarang. Mulai dari longsornya badan jalan raya, sehingga membuat jalan terputus. Waktu itu memang  sedang turun hujan dengan derasnya. Selain itu juga ditambah dengan keterlambatan pemberangkatan kereta dari Tegal-Semarang yang hampir sampai 3 jam.

Sungguh, perjalanan panjang dan melelahkan itu membuat saya dibuat tak berdaya. Lelah pikiran dan tenaga. Namun, karena yang ada di pikiran hanya adik, maka sekuat tenaga, saya mencoba untuk bisa bertahan. Allah,,, Allah,,, Allah.. Hanya nama itu yang membuat saya kembali merasa kuat.

Sepanjang perjalanan, pikiran hanya tertuju pada adik. Air matapun tak terasa membasahi. Sambil mengingat-ingat betapa kuatnya seorang adik perempuanku yang dalam usianya yang masih begitu muda harus menerima cobaan begitu berat dari Allah SWT.

Mungkin karena begitu tegarnya, sakit yang dirasapun tak pernah dia beritahukan kepada orang lain. Tidak dengan ibu bapaknya, tidak juga kepada saya. Dia simpan sendiri rasa sakitnya dan tak mau orang lain ikut merasakan sakit yang sedang dia rasakan. Oh, adik, kenapa kau bersikap seperti itu? Sampai akhirnya sosok yang begitu tegar itu pun dibuat tak berdaya oleh penyakit yang menyerangnya. Kanker ganasnya kini telah menggerogoti ketahanan tubuh adik saya.

Perjalanan menuju RS Kariadi pun berakhir. Kira-kira pukul 16.30 WIB (Selasa sore, 22/3/2011) saya sampai di rumah sakit dan langsung menuju kamar di mana adik dirawat. Begitu sampai di kamarnya, kuucapkan salam, dan terdengar juga jawaban salam dari adik. Ternyata adik saat itu masih sadar dan begitu mendengar salam dariku, adik langsung menatap saya dan meminta untuk segera menghampirinya.

“Mas, sini mas. Aku kangen sama mas. Maafin aku ya mas jika sering merepotkan mas, maaf juga kalau sakitku ini ga sembuh-sembuh. Saya minta keihlasan mas, kali aja ini yang terahir aku bisa bicara sama mas. Maaf untuk semua yang telah membuat mas jadi repot kaya gini.”

Sungguh tak kuasa saya menatap wajahnya. Bukan, bukan karena saya tidak merespon ucapan adik. Tapi karena saya tak kuasa untuk menahan sedih yang teramat dalam, dan air matapun kini telah membendung di kelopak mata. Saya hanya ingin tidak kelihatan menangis di depan adik. Itu saja. Saya tidak ingin menambah beban buat adik dengan kelihatan sedih di hadapannya. Pandangan pun ahirnya saya jatuhkan ke arah luar jendela sana. Melihat langit sore yang begitu cerah dengan lembayung mega yang kejingga-jinggaan. Betapa besar kuasaMu itu ya Allah.

“Mas… aku sayang sama mas. Mas juga sayang kan sama aku. Peluk aku mas, cium aku mas… saya sayaaang banget sama mas.”

Hati ini begitu terguncang, dan entahlah saya harus bagaimana saat itu. Tak kuasa air mata ini saya tahan. Namun saya harus tetap kelihatan tegar di hadapan adik. Dengan hati yang teramat berat, saya memberanikan diri menatap wajah adik yang terbaring lemas, ku peluk dia dan ku kecup keningnya. Hati ini begitu menangis, dan tak terasa pipi pun perlahan dibasahi oleh air mata. Adik melihat itu semua, dan dengan tenangnya, diusapnya air mata yang membahasi pipi saya.

“Mas ko nangis, mas jangan nangis. Aku ga kenapa-kenapa ko mas. Sekali lagi aku mau minta maaf ya, sama mas, dan aku sayang banget sama mas.”

Kata sayang itulah yang terahir adik ucapkan secara sadar kepada saya. Karena setelah itu, adik kembali tak sadarkan diri. Ada suatu kebanggaan saya pada adik. Saya bangga, sebab di saat adzan maghrib berkumandang, adik tersadar dan meminta untuk mengerjakan shalat. Adikpun minta untuk bisa ambil air wudhu, namun karena keadaan yang tidak memungkinkan, maka kami semua yang ada di situ melarang. Namun adik berusaha berontak untuk tetap ambil air wudhu. Saya ingat perkataan yang diucapkan waktu itu.

“Sekali ini aja, nanti tidak lagi-lagi ko. Sekaliiii aja.”

Mungkin itu sebagai pertanda bahwa adik tidak akan mengambil air wudhu lagi setelah itu selama-lamanya atau apalah, yang jelas karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk ambil air wudhu, maka adik kami suruh hanya untuk melakukan tayamum saja. Betapa cantiknya saat itu kamu dik. Antara sadar dan tidaknya, adik berusaha untuk tetap melaksanakan kewajibannya.

Roka’at demi roka’at adik kerjakan dengan khusuknya hingga sempurna. Bukan itu saja, saya ingat betul betapa adik saat itu dalam tidak sadarnya, adik seolah-olah mempraktekkan gerakan sedang  mengenakan mukenah. Ya, saat itu adik dengan gemulainya memperagakan memakai mukenah untuk shalat. Padahal adik tidak memegang mukenah. Tapi adik seolah sedang benar-benar mengenakan mukenah.

Itu yang membuat kami semua bangga padanya, rasa haru itu tak tertahankan. Sehabis shalat pun adik minta saya untuk menemaninya mengaji. Ayat-ayat Allah itu melantun dari mulutnya. Saya mendampinginya dari samping sambil mengikuti apa yang adik minta. Kita ngaji bersama dik.

Saat terdengar adzan isya pun sama. Adik meminta sekali untuk bisa ambil wudhu. Namun tetap kami larang. Hanya tayammum yang adik kerjakan. Hal yang sama juga terjadi saat sedang shalat maghrib. Adik seolah-olah sedang memegang mukenah dan memperagakan menggunakannya, dan kemudian adik shalat roka’at demi roka’at sampai selesai. Sehabis shalat, adik bilang ke saya kalau adik capai dan ngantuk sekali. Adik ingin istirahat.

Rasa haru kembali hadir terjadi. Adik seolah-olah masih merasa mengenakan mukenah yang dia pakai waktu shalat Isya tadi. Adik seolah-olah belum melepas mukenah itu  dan rasanya tidak sopan jika harus tidur dengan masih memakai mukenah. Makanya adik mau melepas mukenah dulu sebelum tidur. Padahal jelas sekali saat itu adik sedang tidak mengenakan mukenah. Mukenah itu kemudian diserahkan kepada saya. Saya menerima mukenah hampa dari adik. Iya, mukenah itu sebenarnya tidak ada, namun adik menganggap seolah-olah dia sedang memberikan mukenah kepada saya. Setelah itu, adik benar-benar tertidur. Tanpa bergerak lagi, tanpa bersuara lagi.

Saya hanya mendampinginya dari samping. Waktu menunjukkan pukul 00.15 WIB (Rabu, 23/3/2011) dan betapa terkejutnya saat aliran yang ada di selang tiba-tiba berhenti. Dalam keadaan panik, saya memanggil suster yang sedang jaga. Tak hanya suster saja yang datang, namun ada juga dokter jaga waktu itu. Mereka pun segera langsung mengecek adik dengan seksama, dan…

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Yang tabah ya mas, bu. Ini sudah kehendakNya. Kita semua sudah berusaha semampu kita. Namun ada yang lebih kuasa dari kita. Ihlaskan semuanya”

Perkataan dokter langsung membuat suasana kamar itu penuh dengan isak tangis. Tak terkecuali saya. Saya kecup kening adik untuk yang terahir kali sebelum adik dikafani. Dalam suasana duka yang teramat dalam, saya harus tetap tegar, karena harus mengurus segalanya termasuk yang  menyangkut rumah sakit. Juga harus mengabarkan kepada seluruh keluarga. Saya tak kuasa sebenarnya saat harus mengabarkan pada seluruh keluarga. Karena saya sendiri belum begitu kuat kalau harus mengatakan adik sudah tidak ada. Namun kalau bukan saya, siapa lagi yang harus mengabarkan kepada seluruh sanak keluarga. Akhirnya dengan segala kekuatan dan memohon kekuatan kepada Allah, saya harus memberanikan diri mengabarkan kepada setiap sanak keluarga kalau adik sudah tidak ada. Kamu tahu dik, betapa mereka semua sayang sama adik. Tangis mereka terdengar di ujung telepon sesaat saya mengabarkan kalau adik tidak ada.

Pukul 1 dini hari, jenazah adik dibawa pulang dari RS Kariadi. Sepanjang perjalanan dari Semarang ke Sirampog, yang ditempuh kurang lebih 5 jam, air mata ini tiada hentinya mengalir. Saya yang tadinya dipaksakan untuk tetap tegar, namun akhirnya tak kuasa juga untuk tidak bisa larut dalam suasana yang terjadi di depan mata ini. Tangisan saya memang tak bersuara, namun air mata ini tak berhenti mengalir sepanjang perjalanan sampai di rumah.

Pukul 06.00 WIB, jenazah adik sampai di rumah. Kembali sahutan tangis dari orang-orang yang sayang sama adik membahana. Hampir seluruh warga menyambut kedatangan kami dan penuh kedukaan. Lagi-lagi, saya harus bisa tegar. Tidak boleh larut dalam duka, karena proses masih panjang untuk mengurus jenazah adik.

Duka mendalam sangat dirasakan oleh Bapak. Bapak yang saat itu tidak berada di samping anaknya, karena sehari sebelum adik meninggal, bapak memutuskan untuk pulang ke rumah karena ada keperluan, sangat terpukul sekali. Bapak seperti benar-benar tidak percaya terhadap apa yang sedang terjadi. Sampai-sampai Bapak tidak mau melihat jenazah anaknya begitu sampai di rumah. Dari jenazah adik tiba di rumah sampai akan disemayamkan, Bapak enggan untuk melihat adik. Berbeda sekali dengan Ibu. Justru saya menganggap Ibulah yang paling tegar diantara kami. Akhirnya pihak keluarga, saudara-saudara Bapak, terpaksa memaksa Bapak untuk melihat anak perempuannya untuk terakhir kalinya sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman. Sedangkan saya, alhamdulillah masih ada kekuatan untuk bisa menyelesaikan mengurusi jenazah adik sampai adik disemayamkan.

Setelah adik benar-benar tiada, tak terlihat oleh mata, saat liang lahat sudah rata oleh tanah, tinggal gundukan merah dan batu nisan yang nampak terlihat, baru tubuh ini merasa tak berdaya. Air mata ini mengalir deras di atas pusara adik. Rasanya saya tak mau beranjak, dan hanya ingin menemani adik di pusara ini. Tak kuasa saya untuk bangun. Sampai akhirnya saya dipapah oleh saudara-saudara saya, dikuatkan hatinya oleh mereka untuk bisa ikhlas dan tidak menggoyahkan iman atas kehilangan adik.

Setelah adik benar-benar tiada di dunia ini, 7 hari berturut-turut setelah adik disemayamkan, setiap pagi saya masih menziarahi makamnya. Tiada maksud lain, itu hanya karena saya ingin selalu merasa dekat dengan adik. Saya kirimkan doa langsung di atas pusaranya. Sampai sekarang saya masih sering ziarah ke makam adik. Namun intensitasnya tidak seperti saat adik baru meninggal. Terakhir kemarin, 31 Desember 2011 saya ziarah ke makamnya.

Tiada yang menyangka, adikku Fatmawati hanya kurang lebih 23 tahun menemani dalam setiap langkah saya di dunia ini. Seiring berjalannya waktu, hingga sekarang 10 bulan telah berlalu, alhamdulillah, saya tetap berusaha untuk tegar. Sungguh, tiada yang salah dengan menetesnya air mata ini karena kehilangan orang yang saya sayangi. Tapi dengan penuh keyakinan, hati ini tetap percaya pada Allah atas apa yang telah terjadi, bahwa semua ini adalah cara terbaik yang Allah berikan untuk kami semua. Tubuh ini mungkin lemas, pikiran tak tau kemana, tapi tidak dengan hati. Hati ini tetap percaya, bahwa ini adalah ujian dari Allah, karena sebenarnya Allah sayang kepada kami semua. Air mata menetes, tapi hati tetep percaya pada Allah.

Selamat jalan dik, kau telah berada dalam penjagaan yang sebaik-baiknya penjagaan, kau telah tenang bersamaNya. Semoga segala yang telah kau lakukan di dunia ini, Allah catat sebagai amal ibadah dan segala dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Do’a saya, doa kami semua selalu menyertaimu dik. Kau akan selalu ada diantara kami.

Ya Rabb…,
air mata ini adalah duka yang mendalam
karena cinta dan sayang kami,
tapi hati ini percaya cinta-MU mengatasi cinta dan sayang kami
takdir-MU adalah yang terbaik bagi dia,
lewat air mata yang mengalir,
kami mohon terimalah ia kembali ya Rabb…
ampuni dosa-dosanya…,
terima segala amal ibadahnya,
ampuni segala khilafannya….,
terangi & lapangkan kuburnya….,
cintailah ia seperti Engkau mencintai para kasih-MU…,
tempatkan di dalam Jannah-Mu ya Rabb…

Allahhummaghfir laha warhamha wa’aafiha wa’fu anha
aamiin, yaa Robbal’ alamin

Banyak hikmah yang bisa diambil dari peristiwa yang telah terjadi ini. Khususnya untuk diri saya sendiri, bahwa ini benar-benar suatu pelajaran dari Allah SWT. Diantara hikmah yang bisa diambil yang menurut saya paling penting adalah:

1. Kematian sudah pasti akan menjemput kita semua. Tak peduli usia, laki-laki atau perempuan, sehat atau sakit. Kalau memang sudah masanya, maka tak bisa dielakkan lagi. Tak bisa ditawar, ditangguhkan ataupun didahulukan barang sesaatpun.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali Imran: 185)

“…… Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (An-Nahl: 61)

2. Kehilangan sesuatu yang kita sayang, kehilangan harta ataupun kehilangan sesuatu yang berharga menurut kita, itu semata hanyalah ujian dari Allah SWT. Allah sedang menguji keimanan hambaNya dengan mencabut apa yang menjadi kesenangan bagi hambaNya. Dengan itu, apakaha hambaNya tetap beriman kepada Allah, atakah goyah keimanannya. Orang yang sudah berimanpun, tetap akan diberi cobaan oleh Allah.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut: 2)

3. Sabar. Allah sedang menguji kesabaran hamba-hambaNya dengan dicabutnya suatu hal yang menjadi kebanggaan hamba-Nya. Sabar tidak begitu saja dideri oleh Allah SWT. Namun Allah memberikan sabar itu dengan melalui cobaan yang diberikan kepada hambaNya. Mampukah kita bisa meraih kesabaran dari cobaan yang Allah berikan. Percuma saja kalau kita selalu meminta mohon diberi kesabaran, namun kita tidak pernah mau menerima atas apa yang telah Allah ujikan kepada kita. Kalau seperti itu, bagaimana kita akan mampu mengetahui sudah sejauh mana tingkat kesabaran kita.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Al Baqarah: 155-156)

4. Ikhlas. Segala yang kita miliki di dunia ini hanyalah sebuah amanah dari Allah SWT, titipan dari yang maha memiliki. Harta, tahta, keluarga, semuanya amanah dari Allah SWT. Namanya suatu titipan, suatu saat pasti akan kembali diambil oleh yang memiliki. Tinggal bagaimana sikap kita saat titipan itu diambil oleh yang memang berhak memilikinya. Ikhlaskah, atau tidak?! Jika kita bisa ikhlas, maka hati ini pun tak kan larut dalam kedukaan karena merasa kehilangan sesuatu yang sebelumnya pernah dianggap milik kita. Bahkan hakekat sebenarnya adalah bukan “hilang”, tapi kembali. Iya, kembali kepada yang memang berhak memiliki. Saya berarti tidak kehilangan adik saya. Adik saya tidak hilang, tetapi telah kembali pulang. Dan suatu saat nanti, pasti saya akan menyusulnya.

5. Dari kejadian yang memang benar-benar saya alami sendiri, dari awal meninggal sampai terakhir disemayamkan, saya telah disadarkan kembali bahwa apa yang dibawa oleh mereka yang telah meninggal tidaklah sebatas hanya sebatas kain kafan saja, gundukan tanah merah dan batu nisan sebagai tahta istananya. Harta, tahta, profesi, bahkan keluarga tercinta, semuanya tak ada yang dibawa. Tidak berguna lagi segala kemewahan yang pernah dimiliki saat masih hidup. Justru yang terus menjadi bekal mereka hanyalah 3 perkara sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

Rasulullah SAW bersabda, “Bila seorang anak Adam wafat, maka amalnya terputus kecuali tiga hal: Shadaqah jariah, Ilmu yang bermanfaat dan Anak shalih yang mendoakan kepada orang tuanya. (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)

Sebenarnya masih banyak lagi hikmah dari kejadian yang saya alami ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua dalam menjalani sisa-sisa kehidupan kita ini. Mohon maaf, bukan maksud menggurui, hanya saja sebatas untuk saling ingat-mengingatkan. Saya sendiri sebagai manusia biasa, pasti tak pernah luput dari salah dan hilaf. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita sesama umat manusia, untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

* * * * * * *

Dengan mengucap Bismillah, saya: Mabruri Bn Nasrudin berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

82 comments

  1. membaca runtut dari awal sampai akhir mas, susah saya untuk berkomentar selain rasa haru yang menyeruak dada😥

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    1. yg sabar pak.. heheh
      insya Allah, semoga kita semua bisa menjalani sisa hidup ini dengan sebaik baiknya

  2. semakin sering kita menjenguk orang sakit, mendampingi orang sakaratul maut, mensholatkan jenazah dan mengantarkan serta menguburkan jenazah, Maka Insya Alloh ini sebagai dzikrulmaut, cara yang sangat baik mengingat kematian. dan ternyata yang dibawa hanyalah amal semata.
    Semoga Mbak Fatimah mendapatkan tempat yang layak dan dilebarkan kuburnya diterangkan semuanya sesuai dengan amal kebaikannya

    1. bener sekali pak…sering ziarah kubur pun tiada maksud lain untuk selalu mengingat kematian juga.

      aamiin ya Rabb… makasih pak doanya

  3. udah berkali2 baca cerita tentang mbak fatma, tapi tetep aja kembali sedih bacanya…
    semoga mbak fatma tenang di alam sana..

    1. aamiin yaa rabb..
      makasih doanya mba..

  4. Seperti yang pernah mas ceritakan dulu…saya terharu sekali kang

    1. iya bli..
      sampai sekarang pun, kalau masih ingat dia, mata saya masih berkaca-kaca

  5. ikut menangis tersedu pilu..huhuhuhuhuhhu…gudlak kontesnya ya Mas..

    1. hiks..hiks..
      makasih bu..😀

  6. Rembang air mataku membacanya Mas. Dalam kenangan seperti ini Mbak Fatmawati akan selalu hidup, jadi suluh bagi keluarga..

    1. iya bu..
      semoga dia telah menunggu kita semuanya di syurga.. aamiin

  7. Mbak Fatma bulan dan tahun lahirnya sama kek Rusa🙂

    Semoga mbak Fatm

    1. waahh,,
      ultahnya bareng dong ya..😀

  8. Allahhummaghfir laha warhamha wa’aafiha wa’fu anha…
    aamiin, yaa Robbal’ alamin

    Cerita yang sangat mengharukan Mas, semoga sucses kontesnya ya…

    1. aamiin yaa Rabbal ‘alamiiin…
      makasih bu doanya buat almarhumah

  9. Agung Rangga · · Reply

    ahahaha, ini kenapa air mata saya jatuh ya? *ngelap air mata*
    yang sabar kak, semoga mbak fatma hidup tenang di sisi-Nya…🙂

    1. hehe.
      ga usah sedih gung… ihlas saja..😀
      makasih gung..😀

  10. Mbrebes mili baca kisah adiknya Mas..

    1. heheh,,
      saya juga mas..😀

  11. Saat itulah kita bener-bener sendirian ya, Mab.. Hanya membawa amal perbuatan semata. Nggak ada yang lain.

    Terima kasih banyak telah menyajikan kisah dan hikmah ini untuk kita semua dan diikutsertakan dalam kontes kami. Telah dicatat sebagai peserta di Buku Besar Keluarga Cebong.

    Allahhummaghfir laha warhamha wa’aafiha wa’fu anha…
    aamiin, yaa Robbal’ alamin.. Semoga Adik Fatmawati (nama kami nyaris sama yah) dimudahkan jalannya di alam sana. Amiin..

    1. iya bu,
      kita telah dibuka benar2 mata hati ini, bahwa semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah semu semata.

      aamiin.. makasih bu doanya..

  12. turut sedih mbacanya, dulu dah pernah baca ceritanya, dan berakhir dengan mewek, asli saya pikir dulu itu cerpen atau cerita orang lain, karena baru awal suka main ke blog ini, tapi setelah baca bener2 ternyata ya allah kejadian…benar….insyaallah Fatmawati tenang disana, disisi Allah diberikan tempat yang terbaik sesuai janji Allah sesuai dengan amal perbuatannya * amien..
    sukses kontesnya mas..

    1. ini benar2 saya yang ngalamin bu.. luar biasalah pkoknya..🙂

      aamiin, makasih bu doanya

  13. padahal aku udah pernah baca kisah ini sekilas dulu, tapi tetep aja sekarang bercucuran airmata lagi.. kerasa banget sedihnya

    semoga almh diberikan tempat yang terbaik…

    1. hehe..
      saya juga berkaca-kaca saat menulisnya kembali kok bu.😀

      aamiin yaa Rabb… makasih bu doanya

  14. Yang tabah dan sabar ya mas?
    Semoga amal perbuatan adik mas Mabruri, bisa diterima oleh Allah SWT.
    Hampir nangis saya baca ceritanya.😥
    Dan sukses untuk kontesnya.🙂

    1. aamiin ya rabb..
      makasih mas..

  15. ya ampun, turut berduka cita ya mas🙂

    1. makasih mas…😀

  16. Saleum,
    saya sangat paham gimana rasanya kehilangan. cerita sedih itu sangat menyentuh hati saya bang. Jujur deh, mata saya berkaca – kaca, sebab saya pun pernah merasakan kehilangan seperti itu. Apapun itu, kita memang harus bisa mengambil hikmahnya. tetap bersemangat ya bang, salam hangat untukmu sebagai sahabatku di brebes.
    saleum dmilano

    1. iya bang
      sebagai orang yg percaya pada Allah, harus percaya akan apa yang terjadi, dg mengihlaskan dan sabar tentunya.

      makasih bang..

  17. mengirimkan Al Fatihah untuk adiknya mas. semoga sukses dengan kontesnya

    1. aamiin..
      makasih bu.. semoga kita termasukorang2 yang khusnul khotimah nanti

  18. 2 x aku baca cerita ini sungguh larut dalam suasana kedukaan
    Insya Allah, amal dan kebaikan adik selama di dunia diterima diterima di sisi-Nya.

    salam🙂

    1. aamiin ya Rabb
      makasih pak

  19. sedih dan mengharukan mas, semoga beliau di terima di sisiNya dengan segala rahmat dan karuniaNYa

    1. aamiin yaa Rabb,,
      makasih pak doanya, semoga Allah mengijabah

  20. Allahhummaghfir laha warhamha wa’aafiha wa’fu anha…
    aamiin, yaa Robbal’ alamin

    1. aamiin yaa Rabb
      makasiih..🙂

  21. Assalamu’alaiku mas Mabruri…
    jujur mataku berkaca-kaca mengikuti tulisan haru ini, menghela nafas saat menulis komentarberharap tidak salah komen dan ketik untuk hal yang penting ini… jarang ada seseorang setegar dirinya..
    Semoga segala amalannya diterima disisiNya Mas, Amin ya rabbal ‘alamin..

    1. ‘alaikumussalam wr wb..

      aamiin ya raab.
      makasih mas doanya

  22. Saya pernah berada di posisi sama seperti Mas Ruri untuk orang yang berbeda, karenanya saya bisa memahami apa yang Mas Ruri rasakan. Semoga almarhumah Fatmawati ( dan juga Sunarsi ) Allah jadikan ahli-ahli syurga Nya. Amin.

    Sukses untuk kontesnya, Mas.

    Salam hangat untuk keluarga tercinta.

    1. Iya bi,,
      tpi ya itulah yang telah Allah tetapkan. insya Allah kita bisa ikhlas & sabar.

      aamiin yaa Rabb, mudah2an mereka telah menanti di syurga ya bi..

  23. mak cebong 2 datang berkunjung……aku pernah merasakan kehilangan orang yg aku sayangi…..jd bisa merasakan kesedihan yg mabruri rasakan…yg tabah yach……Insya Allah almh fatmawati ditempatkan ditempat terbaik…aamiin

    terimakasih ats partisipasinya…sdh tercatat sbg peserta

    1. aamiin,,
      makasih bu..

  24. Assalamu’alaikum mas.😀
    Maaf lama tak berkunjung. habis pindahan rumah jadi sebulanan ga ngeblog.
    Airmataku ngalir deras baca artikel mas ini. Semoga Allah memberikan tempat yg tinggi di sisiNya, amin

    1. ‘Alaikumussalam wr wb
      hehe, ga pa2 bu, kan lagi ada kesibukan sekarang..😀

      aamiin yaa Rabb,, makasih bu.😀

  25. Saya hanya bisa mendoakan
    semoga adik mendapat tempat yang laya dan keluarga yang ditinggal diberikan kekuatan dan keikhlasan melepas kepergiannya

    salam dari pamekasan madura

    1. aamiin yaa Raabb..
      makasih cak doanya. smoga Allah mengijabah

  26. Mas, maap Mak Cebong 3 baru dateng.

    Ya Allah, aer mata gw ko ikutan mengalir juga yah saat baca cerita ini?? Sungguh terhau melihat Fatmawati masih bersemangat mengerjakan sholat magrib & isya, juga mengaji. Dan adegan seolah2 melepaskan mukena itu bikin gw merinding banget. Insya Allah Mba Fatmawati khusnul khotimah dah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

    Thanks telah membagi cerita luar biasa ini kepada Mak Cebong. Thanks atas partisipasinya yah Say🙂

    Al Fatihah untuk Fatmawati.

    Kalo berminat ikutan masih ada 2 kategori menanti Mas🙂

    1. aamiiin yaa Raabb..
      semoga bisa kita petik hikmahnya ya bu..

      hehe,,
      yg lain??? nyari ide dulu lagi..😀

  27. innalillahi wa inna ilaihi rojiun..
    semoga amal dan ibadahnya di terima di sisi Allah SWT..

    1. aamiin yaa Raab..
      makasih mas.

  28. sedih banget ceritanya…
    baca tulisan saya juga yah..

    1. makasih,,
      siap meluncur ke TKP

  29. Kenangan kesahajaan, ketaqwaan serta keiklasan adinda ananda Fatmawati menjadi keteladanan bagi kita, Salam kami

    1. aamiin, mudah2an bu..
      terimakasih

  30. Ya Allah Ya Rabbi…….. Ya Allah…….. tidak terbayang rasanya kehilangan seorang adik. Tabahkan diri ya Mas Mabruri. Ikhlaskan…..
    Kuatkan diri untuk keluarga Mas Mabruri……
    Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun……….

    1. insya Allah, sekarang sudah lebih kuat mas..😀
      makasih masih doanya, semoga Allah mengijabah

  31. meski sudah pernah membaca, tapi membaca lagi masih membuatku berkaca-kaca…. Insya Allah adinda damai di sisiNYA, Mab….

    1. aamiiin yaa Rabb.,
      makasih mba doanya

  32. sya hanya bisa mendoakan, smoga almarhumah diberi kelapangan di alam kuburnya dan ditempatkan bersama dengan orang2 shaleh di surga nanti….aamiin !

    1. aamiin yaa Rabb,,,
      makasih mas.
      semoga kita termasukorang2 yg khusnul khotimah

  33. semoga almarhumah mendapat tempat terindah di sisinya

    1. aamiin yaa Rabb… makasih mas Riez

  34. pergilah engkau dengan amal sholehmu
    temui Allah kami iringi doa, semoga kau dilapangkannya dikaruniai surga..
    saya turut berduka mas..

    1. aamiin.
      makasih mas..😀

  35. Mampir kesini.di suguhi cerita mengharukan..
    Ga bisa berkata-kata..
    Hanya bisa mendoakan
    Semoga Fatmawati tenang di sana..
    Di pangkuan Nya..

    1. aamiin ya Raab..
      makasih bu..🙂

  36. Wah… tulisannya panjang sangad🙂
    Tapi tetap saja, mata berkaca-kaca saat membacanya, Mab…

    1. hehehe,,,,
      ga nyangka juga, akhirnya bisa nulis sepanjang jalan kenangan kak.😀

  37. sungguh, saya sangat bisa memahami apa yang dirasakan Mas Mabruri, betapa putri tercintaku pun dipanggil oleh-Nya; yang tabah ya Mas, semoga Dik Fatmawati kini bahagia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

    Ohya, Mas, ada award untuk Mas Mabruri ya…, semoga berkenan menerimanya:

    http://amazzet.wordpress.com/2012/01/16/dapat-award-the-seven-shadow/

    1. aamiin,,
      semoga orang2 yang kita sayangi yang telah mendahului kita, telah menanti kita di syurgaNya ya pak ustadz.. aamiin

      Owh ya pak ustadz, makasih banyak, segera saya ambil..😀

  38. Ngebayangin rasanya kehilangan seseorang yg begitu kita cintai… sedihnya pasti hampir tak tertahankan ya Mab…

    makasih untuk sharingnya Mab, banyak hikmah yg bisa kuambil dari cerita ini.. semoga adik tenang dan bahagia selalu disisiNya.. amin..

    1. aamiin ya Rabb.
      makasih bu doanya

  39. wah, aku ngga tau musti ngomen apa…

  40. Hueeee terharuuu aku massssss…
    Semoga menang ya…
    Meninggalnya baru-baru ini tho ternyata…

  41. segala yang hidup, akan mati, dan kembali pada penciptaNya.
    semoga selalu diberi ketabahan, dan keikhlasan.

    1. aamiin,, terimakasih mba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: