Qasidah/Rebana…

Siapa yang ga tau rebana?? Semuanya pasti sudah pada tau lah. Paling ngga sekedar tau aja. Menurut sumber yang aku baca di http://id.wikipedia.org/wiki/Rebana, Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing.

Rebana yang kita kenal di masyarakat adalah suatu kesenian tradisional yaitu berupa alat musik untuk mengiringi lagu-lagu bernafaskan islami atau yang sering kita kenal dengan nama Qasidah.

Nah, di Sirampog sendiri, kesenian Rebana/Qasidah sudah dikenal dan dimainkan di sebagian besar wilayah Sirampog. Biasanya ditampilkan dalam acara-acara peringatan hari besar Islam ataupun acara-acara yang bernafaskan Islam. Selain sebagai warisan budaya, rebana juga bisa dijadikan sebagai sarana dakwah, karena syair-syair dari qasidah itu sendiri adalah berupa ajakan untuk kebaikan sesuai dengan ajaran Allah dan nabi-Nya.

Tapi, sayangnya ya entah karena merasa gengsi atau apa, sehingga rebana/qasidah sekarang sudah jarang yang meminatinya. Apalagi bagi para remaja, muda/mudinya. Kayanya wegah buat mainin tu rebana. Yang ada sekarang Ibu-ibu pengajian yang lagi demen2nya mainin tu rebana. Contohnya ga usah jauh2, di tempatku sendiri juga kaya gitu. Dulu mah, dari anak-anak mpe tuwa-tuwa, pada seneng banget mainin rebana, bahkan aku sendiri juga sampe hafal. Remajaku dulu bahkan punya grup rebana sendiri, dan sering tampil di acara2 peringatan Hari Besar Islam. Bukan hanya di daerah sendiri, bahkan sering mendapat panggilan untuk tampil di daerah lain. Tapi sekarang, anak-anak, remaja, muda/mudi sudah ga ada lagi yang mau mainin rebana. Tapi alhamdulillha, ibu-ibu pengajian masih semangat buat belajar mainin rebana.🙂

Seni qasidah lahir bersamaan dengan kelahiran Islam. Untuk pertama kalinya, qasidah ditampilkan oleh kaum Anshar (penolong Nabi Muhammad saw. dan sahabat­-sahabatnya dari kaum Muhajirin dalam perjalanan hijrah dari tanah kelahirannya (Makkah) ke Yatsrib (Madinah). Pada saat itu beberapa kaum Anshar menyambut kedatangan Nabi dan mendendangkan lagu-lagu pujian diiringi dengan lantunan musik rebana.

Pemain Qasidah sedikitnya ada 8 orang, dan mereka terdiri atas:
3 orang pemegang rebana kecil yang berfungsi sebagai melodi atau pengatur lagu.
4 orang pemegang rebana besar; dari rebana ke-4 hingga ke-7 ukurannya bertambah besar, sehingga rebana ke-7 merupakan yang paling besar.
1 orang pembawa alat musik kecrek yang bertugas mengiringi tabuhan ke-7 rebana tersebut.

Mudah-mudahan, rebana/qasidah tetep terus berkembang dan tetep tumbuh di Sirampog, karena selain sebagai warisan budaya, juga sebagai ladang dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang tentunya bermanfaat buat masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: