Permainan tradisional…

Permainan tradisional merupakan kekayaan Indonesia dan juga warisan budaya yang harus kita jaga dan kita lestarikan. Tapi kenyataannya sekarang yang ada adalah, kayanya permainan tradisional sudah tidak ada lagi, sangat jarang sekali di tengah-tengah masyarakat, kita jumpai permainan-permainan yang bersifat tradisional.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, seolah permainan-permainan tradisional telah dimakan oleh waktu, yang ada hanya tinggal kenangan saja. Anak-anak jaman sekarang sudah ga pada kenal tuh yang namanya permainan tradisional. Mereka ga bakalan kenal yang namanya Panggalan, Bentengan, Gobak Sodor, Dam-daman dan sebagainya. Mereka sekarang taunya ya PS, Game Online, Point Blank, Cross Fire, Counter strike, dan sejenisnya.

Tapi kita tidak menyalahnya sepenuhnya pada anak-anak sekarang, kita juga bisa jadi penyebabnya. Mereka ga kenal bisa saja karena ga ada yang mau ngenalin sama mereka. Taunya mereka begitu lahir dan berkembang, sudah ada yang namanya PS, Game Online, sedangkan kita yang pernah ngalamin mainan tradisional ga pernah mau ngenalin sama mereka. Jadi kita juga sebenarnya yang salah.

Okelah, buat nostalgia masa-masa kecil dulu, yuk kita liat mainan apa aja yang dulu pernah kita lakuin. Mungkin di semua daerah sama permainannya cuma namanya aja yang beda. Seperti yang ada di sirampog ini, kita intip aja mainan apa aja yang dulu pernah ada di Sirampog (sekarang juga kayanya sudah ga ada yang mainin…)

1. Bentengan

bentengan

Adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup, masing – masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang atau sebanyaknya juga bisa. Masing – masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar sebagai ‘benteng’.

Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih ‘benteng’ lawan dengan menyentuh tiang atau batu yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan ‘menawan’ seluruh anggota lawan dengan menyentuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi ‘penawan’ dan yang ‘tertawan’ ditentukan dari waktu terakhir saat si ‘penawan’ atau ‘tertawan’ menyentuh ‘benteng’ mereka masing – masing

2. Gobak Sodor

Sodor

Gobak SodorĀ  atau Sodor (Sirampog-red) atau Galasin dalah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 – 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horizontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

3. Panggal

Panggal (sirampog-red) atau Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik.

Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari kain atau nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.

Pada permainan ini dikenal yang namanya Raja dan Unyik (blenyik). Raja dan blenyik ditentukan setelah semua peserta adu kecepatan panggal mereka berputar dan lamanya bertahan sampai gasing itu tidak berputar lagi. Bagi yang mati duluan itulah yang nantinya dinamain Unyik dan yang mati terakhir sebagai Rajanya. Jadi blenyik tu kasian, karena panggalnya dibantha terus tanpa membanta Panggal lawan. (Bantha-sirampogan) ga tau istilahnya kerennya,, hehehe,,, Yang enak ya jadi raja, kebalikannya blenyik lah.

Nah, untuk lagu dalam permainan ini kira-kira kaya gini:

“Nyik-unyikan dendeng gula sengang-sengung”… Pas pada suku kata ‘ngung” yang terakhir itulah semua gasing dilepas untuk adu putar.

Bersambung…….

Gambar: Google Image

About these ads

4 comments

  1. Salam Takzim
    Yang ini juga nanti saya pinjam hehehehe
    Salam Takzim Batavusqu

    1. silakan bang,, :)

      salaam

  2. dulu gobak sodor saya jagonya

    1. saya juga mas.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 339 other followers

%d bloggers like this: